Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

tHE tRuTH

Blog EntryMay 4, '12 1:00 PM
for everyone
Jangan pikir saya tidak cinta dengan bayi saya,
hanya karena saya tidak mengerti posisi bayi di dalam perut saya ketika di-USG. Saya sibuk memicingkan mata, memiringkan kepala, mencari penjelasan mengenai bentuk apa yang sedang saya lihat di layar monitor maupun di kertas tercetak. Disaat dokter, suster bahkan suami mengetahui persis bahwa “itu loh, kepalanya disini, tangannya sedang memegang ini, badannya menghadap kesitu” dan semacamnya. Saya hanya tidak memiliki keahlian itu.

Jangan mengira saya tidak menjaga bayi saya sepenuh hati,
hanya karena saya masih berlari-lari ringan mengejar bis, naik turun tangga di stasiun, berdiri bergelantungan di kereta, dan mengebut bersama tukang ojek. Mungkin dari penampilan saya yang ‘kurang hamil’ (entah karena baju atau karena gesture), jarang sekali orang-orang mempersilahkan saya duduk kalau sedang di transportasi umum. Tapi beberapa ibu hamil lain yang saya tahu, mereka meminta kepada orang-orang dengan dalih “permisi, saya sedang hamil”. Saya bukannya gengsi meminta, tapi kalau saya merasa masih kuat saya tidak akan meminta keistimewaan.

Jangan menduga saya tidak memperhatikan bayi saya,
Hanya karena saya sering mengkonsumsi makanan yang tidak terlalu bergizi, jarang minum susu dan jus, pilih-pilih kalau mau makan sayur, dan tidak mempersiapkan diri dengan bermacam vitamin menyehatkan. Saya mengerti batas, manakah yang tidak perlu saya konsumsi berlebihan, dan manakah yang saya ingin perkenalkan ke bayi saya. Ditambah saya diingatkan oleh dokter bahwa ibu hamil itu bukan orang yang sakit maupun lemah, sehingga tidak perlu over protective ke badan sendiri serta bayi di dalamnya.


Saya tidak perlu membeberkan pembenaran ataupun sanggahan disini. Yang terpenting saya dan bayi saya adalah satu kesatuan sejak awal hingga nanti, dia adalah kekuatan saya dan saya adalah pelindung dia. Kami berkomunikasi bukan hanya dari ucapan yang didengar oleh orang lain, melainkan dari tendangan kecil di dalam perut dan usapan tangan saya untuk membalasnya. Itu yang kami punya. Dan itu lebih dari cukup bagi kami.


I love you more than you know, Kiddo.


PS: picture was taken from www.gettyimages.com

Blog EntryDec 12, '11 10:50 PM
for everyone
Sejak sebelum saya menikah sampai saya baru menikah, ketika ditanya oleh orang-orang “kamu mau langsung apa nunda (punya anak)?” Saya dengan cepat menjawab “nunda sebentar… sampai siap. Yah, beberapa bulan kosong deh, biar napas dulu. Mudah2an dikasih hamil disaat masih produktif masanya”.
Hal itu dengan berbagai versi, saya sampaikan ke setiap orang yang bertanya.

Dan betapapun saya sebagai manusia biasa hanya bisa punya rencana dan keinginan, namun bukan menjadi pembuat keputusan atau ketentuan yang pasti.

Saya bengong tidak percaya ketika dalam hitungan minggu setelah menikah hasil test pack mengisyaratkan positif hamil.
Saya takjub ketika obgyn mengkonfirmasi kehamilan saya yang berusia dini.
Tidak ada kata-kata yang tepat yang bisa menggambarkan perasaan saya pada saat itu.

Lalu kata-kata yang tepat untuk sekarang?
BAHAGIA. TERHARU. BERSYUKUR. GELISAH. BERSEMANGAT. GEMBIRA. TAKJUB.

Saya salut sekaligus miris terhadap perempuan yang memilih untuk merahasiakan kehamilannya, apapun alasannya. Salut karena mereka cukup tegar dan kuat menghadapi proses kehamilan sendirian (tanpa dukungan orang-orang), dan miris karena mereka tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan mereka ke orang-orang banyak.

…karena hamil itu memang sungguh luar biasa indah rasanya…

Minimal bawaannya ingin pamer ke alam semesta dan isinya tentang kehamilan.
Dari mulai jalan dengan membusung-busungkan perut biar keliatan, mengelus-elus perut di keramaian, sampai menyatakan dengan lantang, “Iya, saya sedang hamil….”

Saat ini kehamilan saya masuk perhitungan 8 minggu. Sudah hampir 2 bulan saya beradaptasi dengan kehadiran mahluk kecil di dalam tubuh saya, ya begahnya ya mual2nya ya pegelnya ya semua. Banyak hal yang terjadi pada saya secara drastis. Biasanya mau seharian jalan-jalan atau seru-seruan hayok aja, gak akan istirahat kalo gak sakit parah. Sekarang bawaannya mau tidur dan istirahat terus; jadi anak rumahan, kerja pun jadi ogah-ogahan kalau gak dipaksakan. Makan pun yang biasanya saya batasi karena terbiasa diet menjelang pernikahan, jadi gila-gilaan kuantitasnya. Setiap 3 jam sekali saya kelaparan dan kepingin makan. Akhirnya snacks dan buah selalu ada dalam list belanja mingguan (atau dua harian hehe). Pernah menjadi perokok aktif, saya terbilang cukup cepat mengatakan selamat tinggal pada rokok ketika saya mencurigai diri saya hamil. Saya tidak sedikitpun ingin meminta rokok orang atau mencuri-curi kesempatan, saya jauh lebih sayang kesehatan kehamilan saya daripada kebiasaan yang telah berlangsung kurang lebih 10 tahun itu. Saya tidak bisa mencium aroma-aroma yang mencolok di sekitar, seperti parfum yang terlalu wangi, sambal terasi, ikan goreng/bakar, pengharum ruangan, stick aromaterapi, dan lain-lain. Tentang makanan pun menjadi lebih pemilih karena banyak hal pemicu untuk menjadi mual, sehingga makanan yang saya santap yang aman-aman saja; itu lagi itu lagi.

Semoga kehamilan saya lancar dan normal di semua proses. Semoga janin berkembang sempurna, sehat, dan tepat waktu. Semoga saya dan Lutfi juga diberikan kesiapan fisik dan mental dalam menyambut 
si anak kecil. Semoga semoga semoga…



I want to be a mother simply because I want to experience what my mother called “the most wonderful, terrifying n fulfilling thing that life has to offer”


Blog EntryDec 6, '11 10:08 AM
for everyone
Good friends listen to what you say.
Best friends listen to what you don’t say.



Hari ini sudah kesekian kali saya memilih menjadi best friend daripada good friend.


Teman dekat saya sedang berada dalam masa terberat dalam hidupnya. Saya tidak perlu ceritakan ada apa dengan dia, intinya saja bahwa dia sedang berupaya keras untuk mencari sepotong bahagia di setiap harinya.

Pagi ini, kita melakukan agenda sarapan bersama berdua, tanpa ‘agenda lain tersembunyi atau dipaksakan untuk diadakan’. Meskipun besar dan banyak pertanyaan-pertanyaan saya akan perkembangan hidup dia saat ini, tapi saya memilih untuk menikmati sarapan dengan dia dengan hanya membicarakan rasa enak makanan yang kita santap. Saya tidak perlu lah menanyakan sesuatu yang membuat pagi dia menjadi terasa sendu, saya tidak perlu lah membicarakan sesuatu yang membuat senyum dia jadi hilang, saya tidak perlu lah mengingatkan sesuatu padanya yang membuat sisa hari dia menjadi lebih berat.

Saya tidak perlu menanyakan apa-apa .  Dan dia tidak perlu menjawab apa-apa.

Saya tidak perlu diberitahu untuk bisa mengetahui.


You (you know who you are), when it hurts to look back, and you’re scared to look ahead, you just look beside you, it’s gonna be me staying there. Hope everything will turn out just fine, darling.


Blog EntryNov 21, '11 3:34 PM
for everyone


Cari-cari tempat untuk honeymoon, dan akhirnya pilihan jatuh pada Cubadak island (Cubadak Paradiso Village), Sumatra Barat. Dapet info dari Norman, kalo tempat itu isolated dan homey banget. Apalagi foto-foto di review orang-orang kok menarik banget. Segeralah kami menghubungi si pengelola, Dominique namanya.

Setelah email-email’an dan sms-sms’an dengan Dominique, kami pun book 1 bungalow untuk 2 hari 1 malam dengan harga Rp. 1.000.000/orang per hari. Biaya tersebut termasuk speed boat dari Carocok Painan – Cubadak – Carocok Painan, kamar kece, makan pagi-siang-malam, free flow tea and coffee, snorkeling (and equipments), canoe, berlayar, serta trekking ke hutan.

Kami berangkat dari Bukittinggi ke Painan, Tarusan menempuh perjalanan dengan mobil kurang lebih 3,5 jam (kalo langsung dari Padang lebih cepet, bisa 2 jam). Tidur bangun tidur bangun melintasi jalan berkelok-kelok. Begitu sampai dermaga utk pindah ke speed boat, rasa capek pantat kelamaan duduk langsung terbayarkan.



Perjalanan speed boat dengan kecepatan kencang selama 10 menit hanya bisa memanjakan mata kami masing-masing, tanpa bisa memotret keindahan pulau-pulau yang terlintas dengan kamera. Bukan apa-apa, kami sibuk pegangan tas dan speedboat, supaya gak kecebur. Semakin mendekati Cubadak island, saya semakin kagum akan cantiknya Sumatra Barat. Jarak dengan pulau-pulau lain lumayan berdekatan, warna airnya hijau emerald, pasirnya putih, ombaknya tenang, dan sepi orang!

Sampai di Cubadak Paradiso, langsung disambut perempuan atletis berkulit tanned, dan bilang “hi, I’m Dominique, welcome!” Oh ya ampun selama ini sms dan email2an dipikir sama laki-laki, ternyata perempuan bule yang cantik dan asik banget gayanya.


Diantarlah ke salah satu bungalow 2 lantai yg eco-friendly.  Gimana gak eco friendly, selain membelakangi hutan dan bukit serta menghadap laut langsung, bungalow-bungalow terbuat dari kayu dan daun palem saja. Perabotan dalam (selain toilet dan wastafel), semuanya terbuat dari kayu dan rotan. Lantai dasar hanya kamar mandi, dipan (untuk dipakai tidur 1 tamu tambahan), lemari/rak, dan meja. Di lantai atas cuma tempat tidur berkelambu (karena terbuka dan mengundang nyamuk) dan 2 side tables. Yang bikin tercengang adalah kamar mandinya yang terbuka di bagian bawah (seperti kamar mandi panggung di desa-desa pinggir kali), hanya ditutupi kayu-kayu yang didesain bolong-bolong. Sehingga sambil mandi, air yang terguyur pun langsung jatuh ke tumbuhan2 yang berada tepat di bawah bungalow panggung. Jangan berpikir hal yang sama dengan toilet/wc-nya hehe, tidak sejorok itu pastinya. Gak tradisional-tradisional amat kok, masih ada septic tank dan teman-temannya. Air dingin dan panas di dalam kamar mandi (baik dari shower maupun wastafel)
bisa langsung diminum. Jadi gak mungkin kehausan di dalam bungalow ;)





Di setiap bungalow, depan teras balkonnya ada sepasang kursi malas untuk berjemur. Kadang kami pakai untuk menjemur perlengkapan snorkelling kami, kadang juga untuk ngobrol-ngobrol ringan sambil menghadap pantai, kece!!!!



Makan siang dimulai serentak setiap pukul 13.30. Semua tamu di bungalow dipanggil dengan kentongan untuk datang ke restoran kayu besar di tengah-tengah. Semua tamu mancanegara yang ada duduk bersama-sama di 1 meja besar dan makan menu tengah. Saat itu ada keluarga dari Inggris, Dominique, serta Marco (partnernya) yang berkewarganegaraan Perancis. Sayang sekali pengelola utama yang orang Italy (Nanni namanya) tidak ada karena sedang liburan di negaranya. Padahal saya penasaran ingin bertemu dan tanya banyak ke dia, karena dia sudah berhasil menyulap pulau kosong tanpa penghuni menjadi surga kecil dengan ekosistem masih terawatt seperti itu selama kurang lebih 12 tahun. Makan siang yang dihidangkan jauh berbeda dari apa yang telah kami konsumsi selama di Padang dan Bukittinggi beberapa hari sebelumnya. West meets East kind of food yang sangat nikmat dan kaya gizi (tidak melulu lemak dan kolesterol) membuat perut kami girang. Ditambah cerita-cerita yang dibagi di meja makan antar para tamu. Saya dan Lutfi harus membiasakan diri berbahasa Inggris sehari-hari meskipun berada di negeri sendiri. Maklum saja, yang orang Indonesia cuma kami dan para pekerjanya yang laki-laki semua. Itupun kami jarang komunikasi dengan mereka, karena mereka bekerja dengan giat dan tanpa banyak omong (meskipun tetap ramah dan helpful). Ketika makan ada nelayan datang yang ternyata sangat kenal dan akrab dgn Dom dan Marco. Mereka (nelayan) sering ke daratan untuk member ikan hasil tangkapan dan dibarter oleh Dom dengan buah kelapa sebanyak-banyaknya yang bisa mereka panjat sendiri di beberapa pohon kelapa. Saya melihat langsung betapa si bapak nelayan tua dengan cekatan naik memanjat pohon kelapa dengan cepat dan menjatuhkan lebih dari sepuluh buah kelapa dari atas. Sungguh pemandangan yang menarik.

Selesai makan siang, kami pun duduk-duduk lucu di kursi malas sambil menurunkan makanan. Lalu agak sorean kami pun ber-kanoe ria hanya berdua. Ibarat kata, selama ber-kanoe dll, risiko ditanggung sendiri. Iya loh, tidak ada manual book atau tour guide atau bahkan trainer yang mengajarkan/mengarahkan kami harus bagaimana dan kemana. Itulah serunya, kami menghabiskan waktu 1 stengah jam untuk mendayung dan terus mendayung, hampir ke pulau sebelah. Kalau kami sudah merasa terlalu dekat dengan kapal nelayan, kami pun mundur karena takut sudah melewati batas ber-canoe. Lengan capek dan kuku patah tidak membuat saya kesal dalam menikmati sore bersama suami di atas canoe. Lovely.



Malam hari menjelang kentongan makan malam (yang ternyata jam 20.00), kami pun dipersilakan untuk menikmati bar di atas air. Seperti Le Bridge di Ancol, kami jalan kaki di jembatan ke tengah air dan duduk-duduk disana. Banyak kursi-kursi dan ayunan kain untuk bersantai, serta tawaran minuman beralkohol (yang tidak gratis). Karena kami berdua orang melayu, maka kami pun lebih memilih snack gorengan jagung muda dibanding menikmati alcohol. Perut kami terlalu lapar untuk makan jam 20.00!

Setelah makan malam (yang jauh lebih nikmat dari makan siangnya!) kami pun kembali ke cottage untuk beristirahat. Tidur berkelambu supaya tidak terserang serbuan nyamuk malah jadi kepanasan karena sedikit udara semilir yang masuk. Dipastikan tidur disana tidak memerlukan selimut meskipun fan di langit-langit dinyalakan. Ketika akan tidur, ada bunyi berisik di atap cottage, kami pun terdiam dan fokus pada satu tiang penyangga cottage. Tikus kah? musang kah? monyet?? ular????!! Maklum, hutan belantara bikin otak kami pun kreatif. Ternyata dua kadal yang bertengkar hebat lalu jatuh 1 ke lantai kayu kami. Jangan pikir kadal itu "hanya" bagi saya. Saya sukses gak bisa tidur membayangkan kadal itu sudah menjauh atau belum. Maklum, saya paranoid akan kadal, cicak, dan teman-temannya.



Keesokan harinya, niat hati menikmati sunrise di pagi buta tidak terlaksana karena kami baru bangun jam 7 pagi. Mengingat makan pagi baru dimulai jam 8, maka kami pun trekking dulu ke hutan di belakang cottage. Karena saya gak bawa sepatu trekking yang beneran (kalo Lutfi dapet pinjeman sepatu dari Marco), kami pun agak tersendat mendaki bukit dan hutan karena sesekali saya terpeleset dan harus nanjak dengan ngesot pake pantat. Rem to the Pong. Belum sampai puncak, kami pun menyerah turun lagi setelah 45 menit berlalu. Terus terang, area trekkingnya cukup sulit, karena jalanan becek lumpur, curam, banyak binatang buas (ular dan monyet liar, katanya), serta jalurnya hampir tertutup. Sehingga tidak jarang kami menyibak ranting pohon demi pohon untuk menemukan jalan.


Pulang trekking emang tepat waktu, sarapan dimulai! :) Sarapannya kali ini ala bule, omelette, cornflakes, dan buah-buahan. Yang penting perut kenyang dan bisa langsung bersiap untuk snorkeling. Setelah menurunkan makanan dengan berfoto-foto di atas dek, kami pun menceburkan diri untuk snorkeling di sekitar area dek. Karena pakai life jacket (harusnya gak), maka gerakan kami agak terhambat. Setiap masukkin kepala untuk melihat keindahan dasar laut, pantat kami tertungging ke atas otomatis, hahaha. Ditambah saya yang teriak-teriak gak mau terlalu ke tengah karena takut gak bisa balik ke pinggir. Kebodohan-kebodohan itu hanya kami dan bapak nelayan yang sedang lewat, yang tahu. Itu karena saking sepinya!


Mengingat pesawat kami jam 6 sore berangkat dari Padang, dan perjalanan dari Carocok akan memakan waktu 2-2,5 jam, maka jam 2 kami putuskan untuk meninggalkan Cubadak dengan menggunakan speedboat kembali; namun karena hujan kami memakai speedboat yang ada atapnya. Alam tampaknya bersedih dengan berakhirnya liburan kami di pulau surga tersebut. See you again soon, Cubadak Paradiso! Hopefully you'll still be lovely when we come back there in a few more years.

Contekan selama disana:
-    Di dermaga Carocok, harus siapin uang puluhan ribu untuk orang-orang yang tiba2 dateng ‘malak’. Mereka bilang sih untuk parkir (pdhl cuma drop doang), angkat koper, sama nunjukkin ferry. Ya sudah, daripada disangka gak ramah sama warga sekitar, kami memberikan 30 ribu utk orang-orang tersebut.
-    Tidak semua orang Sumatra Barat tahu dan familiar dengan Cubadak; bahkan beberapa orang diantaranya cenderung sarkastik ketika mengetahui kami pergi kesana untuk berlibur. Konon kabarnya, pulau tersebut sempat tertutup untuk orang lokal, yang artinya hanya orang bule yang diterima untuk berlibur disana. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Nanni dan Dom melakukan pendekatan demi pendekatan dengan para pejabat dan warga sekitar dermaga, sehingga sampai dengan saat ini hubungan mereka dengan penduduk setempat tidak pernah bermasalah.
-    Ati-ati jalan di dalam bungalow ‘tertutup namun terbuka’, pastikan pakai baju setengah sampai lengkap. Karena kalau lampu dinyalakan dan kita berada di dalamnya, bisa terlihat / see through dari luar (meskipun jarang orang lewat). So far sih, saya masih cuek kalau masih jalan pake anduk keluar kamar mandi, siluetnya masih agak sopan hehe.
-    Jika berniat untuk trekking, sebaiknya bawa sepatu olahraga atau sandal gunung di traveling bag. Saya mengalami kesulitan luar biasa ketika harus trekking dengan menggunakan sepatu sendal seadanya :'( Jadinya gak maksimal exploringnya.
-    Bawa snack atau cemilan, karena tidak ada orang serve makanan selain waktu makan pagi, siang, dan malam. Apalagi, tidak ada tukang jualan makanan yang bisa memenuhi kebutuhan, kecuali bersedia manjat pohon kelapa untuk nyemil kelapa sepuasnya.
- Rokok yang tersedia (untuk dijual) di Cubadak hanyalah Marlboro merah dan Marlboro putih, merek dan jenis lain tidak ada. Mengingat tidak ada warung rokok dan minimarket di pulau tsb, maka sebaiknya bawa rokok kesukaan sebanyak-banyaknya kalau mau berkunjung kesana; kecuali bisa mengkonsumsi rokok yang ada.
-       Kopi dan teh memang free flow di Cubadak, tapi hati-hati kalau sotoy memesan jenis kopi yang ternyata 'tidak gratis'. Saya karena tergiur espresso, saya memesan lah 1 cangkir diantara sekian free flow kopi yang selalu saya minta. Hahaha, bisa ditebak, rasanya gak jauh beda, tapi harganya bikin kaget ketika baca bill.
-       Paket yang ditawarkan itu untuk 1 kali makan pagi, 1 kali makan siang, dan 1 kali makan malam. Jadi, apabila kita sudah merasa mendapatkan makan siang di hari sebelumnya, lalu kemudian hari selanjutnya kita belum beranjak dari Cubadak, jangan harap dapatkan makan siang gratis. Saya dan Lutfi sempet dapat kode dari Dom dan Marco ketika kami bilang "We will leave after lunch", lalu mereka tanya "are you planning to have lunch here?" (satu kali nanya), trus "if that's what u want, we'll be serving lunch, only for you two." (dua kali konfirmasi), dan "okay, so u asked for lunch ya,," (ketiga kalinya). Kami gak nyadar kalo minta lunch (diluar paket) itu harus bayar. Dan MAHAL, seharga makan buffet di restoran hotel *gluk* :(


Life moves very fast. It rushes from heaven to hell in a matter of seconds.

Betapa dramanya hidup saya di bulan ini. Drama persiapan pernikahan yang begitu hebohnya sejak Januari lalu gak ada apa-apanya dibandingkan ‘gong’ besar di bulan Oktober. Mungkin banyak yang belum tahu (karena saya belum klarifikasi), bahwa seyogyanya saya menikah di tanggal


9 Oktober 2011 (9-10-11) dengan agenda Akad Nikah atau Ijab Kabul jam 16.00 dan resepsi jam 19.00. Namun sejak bulan September kesehatan Bapak saya menurun drastis. Ada beberapa penyakit baru yang menambah deretan komplikasi yang sudah diderita lebih dulu. Gairah beliau untuk sembuh berangsur-angsur menghilang seperti nafsu makannya. Beliau sempat bilang ke istrinya, Tante Yuli “Yul, saya sepertinya mau mati”.

Setelah diskusi sana-sini antar keluarga dan lumayan singkat prosesnya, kami pun memutuskan untuk memajukan jadwal Akad Nikah-nya, menjadi tanggal 1 Oktober 2011 (11011), bertempat di ruang pasien RS. PMI Bogor dengan disaksikan segelintir keluarga dekat (tidak lebih dari 15 orang). Kami berangkat berbondong-bondong seperti layaknya pengantin tamasya, memohon restu kepada Bapak yang terbaring lemas dan Ibu saya yang tidak henti-henti menangis, dan melakukan Ijab Kabul dengan penghulu dan dua saksi yang berwenang. Betapa bersyukurnya saya, Bapak yang nafasnya tersengal-sengal dan badan lemas tetap memaksakan diri untuk duduk di kursi wali nikah dan berjabat tangan dengan Lutfi pada saat Akad Nikah berlangsung. Bapak mengucap Ijab kami dengan suaranya yang parau dan terbata-bata, namun tetap terdengar khidmat. Lutfi pun mengucap Kabul dengan tegas dan dalam 1 helaan napas. Alhamdulillah, kami pun sah. Setelah Mahar berpindah tangan, cincin saling dipasangkan, Bapak pun kembali ke tempat tidurnya dan berisitirahat lagi. Pada saat itu Penghulu memuji Bapak yang telah bersemangat dalam menikahkan anak perempuannya padahal kondisi sedang parah.




Sebelum resepsi di tanggal 9, saya pun kembali ke kota Bogor untuk menjenguk Bapak di rumah sakit. Pada saat itu saya bawakan pudding caramel yang ternyata disukai beliau yang sedang tidak mau makan. Untungnya hari itu dokter-dokter memutuskan bahwa Bapak bisa pulang ke rumah.  Saya terus-terusan mengingatkan beliau agar berselera makan, karena percuma obat-obatan banyak kalau tidak didukung asupan makanan yang cukup. Bapak hanya mengatakan “mual sekali…” sebagai bagian dari penolakan beliau terhadap makanan. Sebelum saya pulang saya mohon doa restu Bapak untuk kelangsungan acara resepsi, karena Bapak saya tidak mungkin datang dan berdiri di pelaminan. Pada saat itu saya meminta doa beliau supaya acara resepsi saya lancar tanpa ada halangan dan gangguan sama sekali. Dan beliau pun mendoakan hal yang sama di depan saya. Lalu saya pun mencium pipinya seperti biasa dan pamit pulang.

Resepsi berlangsung sesuai ekspektasi saya dan Lutfi, meskipun hujan juga sempat menjadi tamu istimewa kami. Bertempat di Roemah 7a, kami pun menggelar garden party yang berisikan keluarga dan teman-teman dekat. Gak ada yang tidak kami kenal karena memang tidak banyak orang yang diundang. We had such a wonderful party back then. I was speechlessly happy.



Tepat tanggal 10 Oktober, keesokan harinya, saya dan Lutfi baru saja check out dari tempat kami menginap. Rencana kami hari itu padat susunannya, sampai makan siang pun baru dilakukan jam 14.00. Tepat jam 14.15 Tante Yuli menelepon dengan suara panik, “Vin, Bapak pingsan. Kamu kesini sekarang juga”. Langsung membatalkan semua rencana, kami bergegas ke Tol Jagorawi dan terus berdoa agar semua baik-baik saja. Kami masih masuk daerah Sentul pada saat telepon dari tante Yuli kembali masuk dan beliau bilang “Vin…. Bapak udah gak ada…”. Karena suara tante Yuli agak keras sehingga Lutfi yang menyetir juga mendengarnya. Dia yang pertama kali bilang “Innalillahi wa innalillahi rojiun” sementara saya diam saja bengong tanpa bisa mengucap apapun. Air mata pun baru bisa turun deras ketika beberapa telepon masuk mengkonfirmasi hal yang sama.

Sesampai di Bogor hingga 2 hari sesudahnya kami pun melakukan serangkaian proses pengantaran terakhir Bapak dengan lancar. Keluarga yang tidak datang ke acara resepsi saya pun memeluk saya erat dengan mengucapkan kalimat ganda “selamat atas pernikahanmu, dan turut berduka cita atas kehilanganmu”. Kalimat yang ironis namun saya tahu bahwa ini semua jalan yang terbaik. Bapak menunggu saat yang tepat untuk “pergi”. Bapak memenuhi janjinya untuk bisa menikahkan saya dengan lelaki pilihan saya, serta tidak ‘mengganggu’ acara resepsi saya. Semua urutan waktu yang bisa dibilang tepat. Insyaallah saya selalu jadi anak yang mendoakan orang tua saya tanpa putus.

Selamat jalan Bapak Raden Prabu Indradjit Soenaryo. You might not be a perfect father, but you were my lovely dad. I’m thankful that I had a chance to get to know you and to love you in my own definition. Hope you’re happy in a peaceful place seeing me and my beloved partner enter our new life chapter.





Blog EntryOct 1, '11 3:41 AM
for everyone
I never expected that today would be the special day.
My wedding ceremony had been moved into a week earlier since Bapak's health condition has been becoming worse. I have to cope with this situation. Lutfi also has to do the same.

White kebaya was replaced with a muslim dress.
Venue of ceremony was replaced with one small room where Bapak hospitalized.
The flowers decoration was replaced with white curtain of hospital bed.
Marble table and wooden chairs were replaced with plastic ones.

It was not ideal and very far from my expectation, however what I just felt was beyond any words I could use. I never thought this level of happiness could be achieved only by a simple ceremony. This isn't about the perfect outfit, venue or decoration, it's about marrying the right man.

If I had to do this all over again, I'd still choose him, Lutfi Ahadi Arianto. It's official, now I am a wife of this guy.

Blog EntrySep 26, '11 11:08 PM
for everyone
Parents are sometimes a bit of a disappointment to their children

Mungkin saja sebenarnya ketidakpuasan saya sebagai anak sama banyaknya dengan ketidakpuasan orang tua saya terhadap saya. Tapi setidaknya ada dua kekecewaan besar yang saya rasakan yang tidak terobati segitu mudahnya, meskipun masing-masing beda level, beda bobot, beda perasaan.


The first one happened to me centuries ago
.

Kepulangan ibu saya dari sekolah master di US bertepatan dengan graduation day SD saya. Sebagai anak dari single parent, saya mati-matian cari perhatian sama ibu saya. Jauh-jauh hari saya sudah menerima tawaran untuk perform menari di panggung pada saat graduation day yang diselenggarakan di luar kota. Saya latihan setiap hari, bahkan saya hafal mampus setiap gerakan, semata-mata hanya untuk ’menunjukkan’ ke ibu apa saja yang beliau lewatkan sekian tahun waktu beliau sekolah di luar. Teknis acaranya, kami (para murid kelas 6) diberangkatkan terlebih dahulu ke Cidahu untuk menginap semalam dan melakukan GR. Kemudian keesokan siangnya orang tua akan berdatangan ke penginapan kami dan menonton pertunjukkan kelulusan kami. Siang itu si saya kecil sedang menghafal gerakan di depan kaca dalam kamar. Ada speaker terdengar yang kira-kira suaranya ”Vina kelas 6C dipanggil di lobby bawah. Vina kelas 6C dipanggil di lobby bawah”. Saya pun bergerak mencari tahu ada kabar apa di lobby bawah. Saya diberitahu oleh wali kelas dan kepala sekolah saya bahwa Ibu saya habis menelepon dan mengabarkan tidak bisa hadir di acara kelulusan hari itu karena beliau tidak kuat untuk menyetir jauh akibat masih jetlag dan lelah. Saya seperti mendengar kabar kalau saya tidak lulus SD, rasanya badan saya lemas banget. Yang saya ingat saya tidak bisa ngomong apapun selain menangis hebat. Teman-teman yang mengelilingi dan mengusap-ngusap punggung saya pun gagal menghibur. Saya menyatakan kepada wali kelas bahwa saya tidak bisa dan tidak akan perform kalau tidak ada ibu saya di kursi penonton. Wali kelas saya tidak memaksa, hanya memberikan saya nasihat tak terlupakan yang kurang lebih berbunyi “kamu lulus dgn nilai bagus karena prestasi kamu sendiri. Kamu yang berhak milih mau bersenang-senang atau mau mengurung diri di kamar. Ibu kamu tetap akan bangga sama kamu”. Setengah jam sebelum mulai saya memutuskan untuk turun dan bergabung dengan teman-teman yang menunggu giliran tampil. Saya pun kemudian menari dengan gerakan yang sudah saya kuasai betul. Saya menangis ketika lagu dan gerakan saya selesai. Banyak yang tepuk tangan meskipun bukan tangan ibu saya. Disitu saya belajar bangkit dari kekecewaan.


The second one happened to me just now and I still figure out how to fix it.

Karena saya dibesarkan oleh single mom, maka saya baru beberapa tahun terakhir dekat dengan bapak saya. Saya punya agenda rutin utk menelepon dan mengunjungi beliau. Ketika saya memutuskan untuk berpacaran serius dengan si pacar, saya pun mengenalkan dia ke bapak. Tujuannya adalah mohon direstui. Bagaimanapun peran bapak yang paling penting ketika si anak perempuan dewasa, adalah menikahkan anaknya di depan penghulu (dalam pernikahan agama Islam). Semakin waktu berjalan, persiapan pernikahan pun mulai dilakukan. Sejak mulai lamaran keluarga, kondisi bapak sedang menurun. Beliau sakit-sakitan sejak lama, terutama jantungnya. Tapi beliau masih rajin mengkonsumsi obat dan check up ke dokter.  Semakin kesini saya semakin sering memantau kesehatan beliau yang memang semakin drop. Saya mulai egois, saya bilang “bapak sehat dong, kan bapak mau nikahin aku bentar lagi.” Dan bapak pun menjawab “iya, bapak pasti menikahkan kamu. Ijab Kabul itu penting buat bapak juga”. Sebuah janji telah terucap. Saya yakin bapak saya akan menjaga kesehatannya untuk hari penting saya dan semua baik-baik saja. Beberapa hari lalu saya kesana, bapak terbaring dan cerita bahwa napasnya semakin sesak dan mengatakan kekuatiran beliau pada saat ijab nanti, takut tiba-tiba gak bisa ngomong lancar. Saya menepis kekuatiran tersebut dan menguatkan hatinya. Akhirnya beliau pun berlatih kalimat Ijab Kabul di depan saya. Saya pulang dengan puas. Lalu malam ini pun terjadi. Ibu saya sehabis menerima telepon memanggil saya ke kamar dan meminta saya duduk. Ibu bilang bahwa istrinya bapak habis menelpon dan mengatakan kondisi bapak memburuk karena merasa menyerah dengan penyakitnya dan tidak mau disembuhkan. Dan bapak sempat mengatakan kalau beliau tidak sanggup menikahkan saya, sehingga menguasakan secara hukum kepada wali hakim, pihak yang ditunjuk untuk menikahkan saya nanti. Saya gak tahu harus merasakan mana yang lebih besar, panik, sedih, atau kecewa. Orang satu-satunya yang berwenang menikahkan saya secara Islam memilih untuk menguasakan ke orang lain karena beliau menyerah untuk melawan penyakitnya?? Semoga saya tetap kuat dalam mengatasi rasa ini dan tidak menjadi anak durhaka.


At the end of the day, we must accept finite disappointment, but never lose infinite hope.

Blog EntrySep 12, '11 11:07 AM
for everyone

Aku rindu kamu ucapkan rindu,

Meskipun hanya lewat pesan elektronik di waktu tidak terduga
Meskipun hanya lewat ciuman singkat di dalam elevator yang kosong
Meskipun hanya memeluk gemas dari belakang ketika berada di keramaian
Meskipun hanya genggaman tangan yang dipererat di saat terjebak dalam kemacetan

……………


Karena sudah lama rindu-rindu itu tidak kuketahui keberadaannya.
Semoga mereka masih tetap ada.



*re-posted from my account on goodreads.com

Blog EntrySep 9, '11 12:24 PM
for everyone
Di setiap pernikahan (Islam, khususnya) yang terpenting adalah ijab kabul dan penghulu. Kalau ijab kabul dilaksanakan dengan lancar dan oleh orang-orang yang memang berwenang (bapak kandung/wali nikah, (calon) suami, dan serta penghulu, maka insyaallah pernikahan pun dinyatakan sah. Nah, yang sempat bikin kalang kabut banget adalah dalam hal pencarian penghulu. Saya dan pacar sempat santai-santai di awal tahun, “ah nanti aja, masih lama”. Kemudian pertengahan tahun kami masih santai, bahkan saya belum memproses perpanjangan KTP yang habis bulan Maret lalu, ditambah harus ganti menjadi KTP nasional. Lalu saya sempat parno waktu beberapa orang bilang “wah, jangan anggep enteng pencarian penghulu loh. Kalo jadwal si bapak penghulu masih kosong ya alhamdulillah, nah kalo udah penuh? Ya harus ganti hari deh lo”. Walah! Langsung panik mampus memikirkan harus ganti hari kalau tidak ada penghulu yang available. Bener juga sih, kalo venue udah siap, baju udah siap, katering udah siap, undangan udah siap, dekorasi udah siap, tapi kalo gak ada penghulu? Ya gak jadi kawin. Segitu simpel namun pentingnya bapak penghulu itu.

Mengingat tidak mungkin cari penghulu tanpa didahului persiapan dokumen, maka akhirnya bulan Agustus lah kasak-kusuk ngurus-ngurus segala dokumen. Pacar saya sih udah siap dari sebelum saya panik, jadi saya yang kelimpungan sendiri colong waktu kerja untuk ini itu. Pengurusan KTP ternyata gak sehari dua hari, habis difoto (yang dimana muka saya gak siap pose), lalu masih harus menunggu ditandatangani oleh pak lurah. Mana pak lurahnya mobile banget, agendanya padet, jadi ya karena saya bukan penduduk yang diistimewakan, maka harus sabar menanti. Seminggu lewat kemudian KTP jadi, baru lah bisa ngurus dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pencatatan pernikahan. Sebelum pengurusan sudah harus mempersiapkan fotokopi KTP sebanyak-banyaknya, pas foto 2X3 dan 3X4 (masing-masing 4), fotokopi Kartu Keluarga (4 buah), fotokopi Akte Kelahiran (4), fotokopi KTP bapak kandung. Bahkan saya menyimpan pula dokumen-dokumen pacar, siapa tahu dibutuhkan. Lalu mulailah saya berkunjung ke rumah pak RT (sekalian silaturahmi) untuk minta surat pengantar dari beliau. Untungnya pak RT saya sangat baik dan helpful, mau membantu sampai pengurusan surat numpang nikah di kelurahan (karena saya menikah di kelurahan Cilandak Barat). Sekitar 2 mingguan lah prosesnya, semua dokumen sudah kembali ke saya, tinggal pengisian surat keterangan belum pernah menikah yang harus ditandatangani saya dan bapak kandung, serta surat keterangan orang tua. Setelah selesai semua, barulah saat yang dinanti-nantikan, ke KUA Cilandak Barat berdua dengan pacar, sambil membawa dokumen masing-masing.

Sebelum ke KUA, kami sudah dipersiapkan dulu oleh teman-teman yang sudah berpengalaman. Bagaimana menyikapi penghulu-penghulu yang matre, yang ribet, yang sok banyak jadwal, yang rese dsb. Kami sempat shock ketika dengar cerita ada penghulu di satu area yang pernah mematok harga sampai 5 juta! Astaga, parah banget. Penghulu itu harusnya meringankan jalan/niat orang-orang yang mau menikah loh, bukan malah memberatkan. Kami pun akhirnya pasrah, karena tidak ada yang bisa kami lakukan kalau penghulu tinggal satu-satunya dan mematok harga mahal di waktu yang mepet (kurang dari dua bulan lagi pada waktu itu), ya palingan mempersiapkan wajah memelas. Di hari itu, saya ambil cuti demi mengejar penghulu. Dengan pacar, kami menyasar sana-sini untuk mencari KUA Cilandak Barat. Puasa-puasa, panas-panas, ngantuk-ngantuk, tapi tetep niat maksimal untuk menyelesaikan proses ini. Pas nemu KUA-nya, sebelum turun dari mobil, kira-kira percakapan saya dan pacar adalah seperti ini:

“aku gak usah bawa tas kali ya, bawa map lusuh ini aja”
“eh blackberry jangan ditenteng, jgn lupa silent-in”
“ntar kalo ditanya gaji kamu, gak usah dijawab jujur kali ya”
“kalo ditanya mas kawin, bilang aja belum tau”
“venue kita ntar dipertanyakan nih, wah bisa mahal tarifnya dia”
“aku gak mau ngomong, ntar kamu aja yang nego dan ngerayu-rayu ya”
“pasang muka lempeng aja ya, jangan emosi”

Hehehe macem-macem lah pokoknya skenario dan konspirasi kami. Setelah siap, kami pun turun dan mencari si the-most-wanted-man-at-that-time. Pembicaraan pun mengalir, didominasi si bapak penghulu dan ditanggapi oleh sang pacar. Saya hanya klamut-klamut aja milin-milin baju. Pada saat bapak penghulu membuka kalender agendanya, ternyata bulan kami masih kosong agenda, saya pun mulai sumringah. Selanjutnya ceramah, cerita, nasihat, doa, hampir bikin saya ngantuk. Mules tercipta ketika si bapak penghulu mengomentari venue pernikahan kami, “Wah disitu tempatnya? Bagus ya, saya beberapa kali menikahkan orang disana…” Dalam hati saya sudah suudzon dia akan kasih tariff mahal. Ternyata bapak penghulu yang ini memang penghulu yang baik dan bijaksana, beliau bilang “saya itu tugasnya membantu dan mendoakan pasangan-pasangan yang hendak menikah. Saya tidak mematok harga, karena saya ikhlas membantu memperlancar. Bahkan, kalaupun tidak dibayar saya pun ikhlas, karena tanggung jawab saya kepada Allah”. Saya mau loncat meluk si bapak penghulu, untungnya si pacar lebih eling dari saya, dan menanyakan sekali lagi “tapi kami perlu tahu kira-kira patokan tariff bapak biasanya berapa? Meskipun serela dan semampunya kami, belum tentu nilai tersebut bisa diterima oleh bapak”. Akhirnya si bapak penghulu pun menyebutkan nominal, yang syukur Alhamdulillah masih sesuai harapan dan perkiraan. Pingin saya peluk lagi rasanya hahaha.

Kami pun pulang dengan dibekali buku-buku panduan membentuk keluarga sakinah mawadah warohmah, serta kuesioner yang harus kami isi dan kembalikan di hari berikutnya. Syukurlah sebelum Lebaran kemarin, semuanya sudah beres.

**
Pak penghulu pak penghulu aduh duh
tolong dong nikahkan dia ek... ek ...
Pengantinya sudah tak tahan
menunggu malam pertama
**
lirik lagu "Pak Penghulu"
Penyanyi: Dina Mariana




Blog EntrySep 7, '11 3:19 PM
for everyone
Serius, saya rindu Ramadhan. Entah saya doang yang merasa atau ada juga yang merasa sama, tapi kenapa Ramadhan tahun ini berjalan begitu cepat ya? Bukan mengenai dilema hilal pada 1 syawal kemarin, tapi lebih ke momen indahnya begitu cepat berlalu. Saya masih ketagihan. Ketagihan bangun dini hari, ketagihan jalanin ibadah lebih khusyuk (sering bonus air mata dan berdurasi lama), ketagihan buka puasa rame-rame, dsb dsb.

Bukannya saya tidak mensyukuri hari kemenangan Idul Fitri, tapi rasanya kalo dibandingkan sama keindahan Ramadhan, Lebaran itu jauh levelnya. Bayangin aja, pada saat puasa kita menahan nafsu makan minum sekian jam (yang bikin metabolisme tubuh jadi sehat), menahan nafsu amarah (yang bikin jadi sabar dan bisa mengendalikan diri), menahan untuk tetap sederhana, tidak berdusta, lebih tenggang rasa, rasa berbaginya cenderung besar, dan tidak berlebihan dalam keseharian. Pada saat Idul Fitri datang menggantikan Ramadhan, orang cenderung ‘balas dendam’, kembali pamer, serta bersikap berlebihan. Contoh paling minimal adalah makan menggila dan ngemil seharian, mukena dan sejadah paling cantik untuk dipakai sholat Ied, pakai baju stylish serta perhiasan mencolok untuk silaturahmi. Coba ke makam untuk berziarah, penjualnya menjual bunga dengan harga setinggi mungkin, pembelinya membeli bunga banyak dan berlebih untuk menghias makam sanak famili. Apa namanya kalau tidak berlebihan? Belum lagi orang-orang yang berpikir bahwa Idul Fitri membersihkan dosa dan pasti kita kembali fitrah, lalu malah membuat dosa lagi karena merasa telah ‘bersih’. Amit-amit.

Saya tidak sabar menunggu Ramadhan selanjutnya. Mudah-mudahan diberi umur dan berkah untuk bertemu lagi dan memperoleh nikmatnya.


Blog EntryAug 22, '11 4:15 AM
for everyone
Oya ampun, ada minggu yang terlewat! Tapi gak papa, lanjutkan dulu deh weekly facts saya minggu kemarin

1.    Otw kantor, saya melewati dan melihat papan jalan yang rusak dan hampir rubuh, di jl. Kramat Raya (arah Salemba menuju Senen). Karena saya kuatirkan akan jatuh dan menimpa mobil atau memakan korban, saya mencoba keberuntungan dengan menuliskan di Twitter dan mention @TMCPoldaMetro untuk menginformasikan hal tsb dan minta ditindaklanjuti. Begitu saya pulang kantor sore, papan tsb sudah diperbaiki dan tidak hampir rubuh lagi. Syukurlah, masih ada pihak yang cekatan dan bertanggung jawab, terlepas dari laporan saya sampai atau tidak.

2.    Di dekat rumah saya ada kantor besar yang dimiliki oleh tokoh-yang-saya-tahu-adalah-mafia-dan-antek-anteknya, tidak perlu disebut namanya. Tapi yang jelas, tangan kanannya juga tokoh masyarakat, yang selalu menjadi wayang si dalang intelektual. Singkat cerita, kantor tersebut sering banget ngadain acara amal, terlebih lagi di bulan puasa ini. Hari ini adalah hari ke-5 mereka ngadain acara buka puasa bersama yang besar-besaran. Saking besarnya sampai saya pun kesulitan untuk masuk kerumah melewati jalan umum yang ada kantor tsb. Akhirnya selama 4 hari kemarin saya harus pulang sebelum jam 5 sore atau sesudah jam 10 malam. Kenapa heboh? Ya karena tokoh-tokoh tersebut menggelar acara amal untuk 1000 anak yatim SETIAP HARINYA. Sehingga berpuluh-puluh bis Big Bird memenuhi jalan, kemudian sisi jalan yang biasa untuk tempat parkir dijadikan tempat penyimpanan “goodie bag” untuk anak-anak tersebut, entah apa isinya (saya hanya melihat ribuan tas ransel besar). Saya jadi mikir (insyaallah gak suudzon), tapi apakah pejabat-pejabat atau tokoh-tokoh yang korupsi atau melakukan kejahatan kemanusiaan setiap harinya dapat membersihkan dosa dengan beramal dalam jumlah besar kepada anak yatim dll? Apakah mereka berharap mendapat “keseimbangan” dengan hidup seperti itu? Sekali lagi, saya gak mau suudzon. Itu hak mereka, “harta” mereka, pertanggungjawaban mereka. Saya cuma modal mikir aja.

3.    Untuk membandingkan beban biaya transportasi bulanan kalau pakai mobil pribadi atau dengan transportasi umum, saya pun menggunakan bis dkk selama 3 minggu untuk ke kantor. Setiap harinya saya mencoba rute baru dengan pilihan transportasi baru. Sejauh ini, saya sudah hapal luar biasa tentang jadwal bemo utk mengangkut saya ke salemba, tipe Transjakarta seperti apa yang sampai daerah gunung sahari, nomer mikrolet apa yang sampai kemayoran, kopaja nomer berapa yang lewat sunter, dan tariff ojek atau bajaj menuju kompleks kantor saya. Memang jatuhnya lebih murah, kalau dengan mobil, tariff BBM perbulan bisa mencapai 1 juta, kalau dengan transportasi umum bisa berkurang menjadi 600 ribu perbulan. Tapi kemudian saya dinasihati oleh ibu maupun pacar saya, bahwa beban biaya lebih murah tapi konsekuensi dan risikonya malah lebih besar. Saya jadi cepat lelah karena lebih lama di jalan, keringetan bikin cepat lusuh dan gampang masuk angin (saya sering bgt masuk angin krn keringetan), kena debu mulu padahal saya alergi debu, hak sepatu jadi rusak karena trotoar atau jalanan yang tidak bagus, penampilan jadi kurang representatif kalau harus ketemu klien, ada risiko lebih besar untuk dicopet, ditodong, jatuh dari bis/motor, dan tertabrak (*knock on wood). Apalagi ibu saya menambahkan dengan kalimat andalan, “kamu itu mau nikah, ada aja cobaan dan gangguannya. Semaksimal mungkin kamu jaga diri, badan, penampilan, harta dsb, dan seminimalisir mungkin kamu bersinggungan sama risiko-risiko”. Ya ya baiklah, saya akan lebih mendengarkan ibu saya. Kembali ke penggunaan mobil bukan berarti bebas risiko, tapi mudah-mudahan membuat ibu saya jauh lebih tenang.

4.    Pada masa-masa saya akrab dengan transportasi umum, di satu hari yang sibuk saya sampai menggunakan busway transjakarta (TJ) 4 koridor sekaligus! Saya namakan hari itu adalah Busway Trip. Bayangkan saja, saya naik TJ berawal dari mangga dua (dekat kantor) koridor 5 menuju Kampung Melayu. Dari situ saya pindah ke koridor 7 yang ke arah Cawang, karena saya ada agenda dgn dokter kecantikan di Carrefour cawang. Lalu selesai dari dokter, karena saya ada agenda lain dengan teman-teman cewek di daerah Menteng, saya pun naik TJ koridor 9 yang kearah Pluit, tapi saya turun di Kuningan Timur. Lalu lanjut ke Menteng dengan naik koridor 6. Seru-seru banget, saya naik turun bis untuk ke 1-2 tujuan. Ada bis yang penuh banget, ada yang kosong banget sampe saya kedinginan sama ACnya. Busway Trip menyenangkan! Dengan 3500 kita bisa keliling Jakarta cuma dengan modal hapal nomer koridor *promosi cagub*.

5.    Hunting keripik dkk keluaran Maicih selama 2 minggu ini. Saya orang yang telat mengikuti trend, karena pada saat trend berlangsung saya tidak tertarik. Jadi ketika masanya sudah agak lewat, saya baru cari tau ttg Maicih dan produk-produknya. So far yang saya suka adalah seblak dan keripiknya, hanya kuat sampai level 5. Itupun sudah bikin perut panas, kadang diare, kadang eneg saking pedesnya. Makan maicih itu cuma 1 strateginya: tahu kapan harus berhenti. Karna kalau kita paksain makan terus padahal bibir udah jontor, perut udah penuh, ingus udah meler, tenggorokan udah panas, akhirannya malah kayak saya, jatuh sakit. Bukan berarti saya bilang Maicih bikin sakit, tapi lebih tepatnya harus tahu kemampuan dalam mengkonsumsinya lah. Gak usah sok kuat dgn pedesnya, dan gak usah sok bisa ngabisin seplastik dalam waktu singkat. Gak segitu worth it-nya beli obat yang lebih mahal dari 18 ribu (harga Maicih seplastik).


Blog EntryAug 12, '11 12:10 PM
for everyone
Dari jauh-jauh hari di awal tahun ini saya sempat mengemukakan keinginan, kalau mau bikin undangan pernikahan pinginnya unik, seperti format boarding pass pesawat. Itu gara-gara pernah liat di postingan Multiply (entah punya siapa), dan undangan berdesain boarding pass itu bagus banget. Tapi sayangnya, saya tidak dapat menemukan lagi postingan tersebut di Multiply, sehingga harus merelakan ide itu pergi begitu saja. Undangan bentuk apa aja deh, pikir saya akhirnya.

Nah, malah kebablasan, sekarang sudah masuk Agustus dan belum bikin desain undangan untuk bulan Oktober? O-ow we’re in trouble.
Akhirnya dengan kebat-kebit saya dan si mas pacar memutuskan untuk ke vendor undangan di Pasar Tebet di satu weekend. Karena gak ada referensi atau rekomendasi sebelumnya, kami pun memilih sendiri dari sekian puluh vendor yang bertebaran di lantai basement pasar itu. Kami pun memilih vendor yang bernama Hi Print. No reason.

Setelah melihat-lihat contoh undangan demi undangan selama 15 menit, kami pun tertarik dengan 2 desain, yang akhirnya dengan diskusi lebih lanjut kami pun memilih 1 desain, the chosen one. Alasannya simple, manis karena berpita, minimalis, dan harga masuk di budget. Langsung berjibaku dengan tim mereka (vendor) dlm pengaturan kalimat dan nama orang tua yang akan tertera. Keahlian berbahasa Indonesia kami diuji. Setelah ada hasil sementara, kami minta waktu sama vendor untuk berpikir lagi sebelum acc desain dan substansi terakhir. Saya minta waktu sama pacar untuk diskusi dulu dengan ibu saya (yang memang paling bawel dengan semua proses persiapan pernikahan). Benar saja, banyak revisian dari ibu saya, dari mulai kalimat doa, kalimat undangan, sampai pengaturan urutan nama orang tua. Maklum ibu saya dulunya pegawai negeri dan juga dosen, jadi gak diragukan lagi kemampuan beliau ber-narasi dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya dalam beberapa hari kemudian kami pun menyetujui draft undangan untuk proses naik cetak. DP kedua sudah diberikan, tinggal menunggu hasilnya dalam 2 minggu kedepan. Berharap banget Hi Print dapat diandalkan dalam hal ini.


Sebenarnya mengingat kapasitas tempat yang tidak bisa memadai untuk banyak orang, maka yang kami undang pun terbatas sekali, hanya keluarga besar (percayalah, keluarga saya ternyata besar sekali dibanding keluarga pacar), serta teman-teman dekat. Agak dilematis juga sebenarnya, karena baik saya dan pacar punya teman dimana-mana, tapi kami harus memilah mana saja yang diundang dan mana saja yang tidak. Dengan berat hati kami terpaksa memutuskan beberapa nama yang diundang, atas nama kualitas hubungan dan tingkat kedekatan emosionalnya. Bukan berarti yang tidak diundang itu bukan teman yang berkualitas, tapi lebih kepada keterbatasan tempatlah yang membuat kami harus memilih list tamu yang sedikit diantara banyaknya kawan.


Saya pribadi berharap tidak ada pihak yang tersinggung nantinya. Semoga.



Blog EntryAug 9, '11 1:50 PM
for everyone
Ibu saya pernah bilang "kalau waktu single hidup senang terus ketika menikah hidup susah, buat apa? Menikah itu seharusnya meringankan beban, bukan malah menambah berat"

Saya terpaksa tidak sependapat dengan beliau.

Waktu saya kecil memang saya masih polos, menganggap pernikahan itu adalah tujuan hidup. Si saya kecil berpikir nanti kalau sudah dewasa saya akan menikah dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya lalu hidup bahagia seperti putri dan pangeran di istana. Bahkan saya menganggap pesta pernikahan yang meriah dan megah adalah kebahagiaan paling tinggi. Ya, salahkan saja dongeng-dongeng anak kecil yang ceritanya berakhir pada saat putri dan pangeran menikah lalu berciuman bibir. Dongeng tidak berlanjut ketika mereka selesai pesta. At least waktu saya kecil tidak ada dongeng tentang kehidupan pernikahan.

Kembali ke topik, semakin dewasa saya semakin menyadari bahwa pernikahan bukanlah satu-satunya alasan kebahagiaan. Banyak lah pengalaman hidup orang-orang dekat yang membuat saya 'belajar' akan hal itu. Tidak ada pernikahan yang senang-senang saja sepanjang masa. Tidak ada pernikahan yang jauh dari beban dan problema. Tidak ada pernikahan yang anti rasa susah. Semegah apapun pestanya, semenakjubkan apapun pasangannya, semapan apapun finansialnya.

Contoh kecil yang membuat saya tidak setuju dengan kalimat ibu saya di baris paling atas adalah, begitu menikah kita memang mendambakan hidup bahagia penuh cinta dan tawa. Tapi tidak akan setiap hari kehidupan pernikahan berlangsung seperti itu.  Jika dibandingkan dengan hidup semasa single yang bergantung sama orang tua, tentu menikah dengan gaya dan kondisi apapun pasti terasa lebih 'susah'. Minimal kita merasa lebih 'susah' ketika tidak lagi menjadi "anak orang tua" tapi statusnya bertambah menjadi "istri/suami orang". Kita menjadi 'susah' ketika harus berpikir dengan dua kepala karena biasanya cuma satu. Kita menjadi 'susah' ketika harus menekan ego disaat ada perbedaan pendapat. Kita menjadi 'susah' saat harus menabung dan menyisihkan dana untuk kelangsungan rumah tangga. Kita menjadi 'susah' ketika barang incaran pribadi sudah tidak lagi mudah dibeli atas nama memprioritaskan barang bersama. Belum nanti sudah memiliki anak, ada beberapa lagi tingkatan-tingkatan 'kesusahan' dalam pernikahan.

Sesuai dengan judul saya di atas, dengan kita bersiap untuk menikah, maka kita pun harus bersiap dengan 'kesusahan'2 seperti di atas, baik materi maupun immateri. Bagaimanapun juga, kebahagiaan itu tergantung pada definisi kita masing-masing dan juga didukung oleh konfirmasi dari hati dan perasaan yang tidak dapat digeneralisasi.

Blog EntryAug 1, '11 1:25 PM
for everyone

1.    Saya menjadi koordinator divisi transportasi kegiatan Helping Hands Project di Taman Budaya, Sentul City. Bukan akan membahas ttg seru dan mengharukannya kegiatan tersebut, tapi saya mau cerita tentang hal-hal annoying yang saya dapatkan dari vendor bis yang saya sewa bbrp hari sebelumnya. Sampai H-1 saya dan tim masih korespondensi dengan baik sama orang yg in charge di vendor tersebut, hingga akhirnya saya pun tanya mengenai overtime fee. Mereka bilang tidak ada, boleh dipakai seharian. Bis datang di hari H, cukup bagus dan memadai lah, meskipun ada 1 bis yang gak ada toiletnya. Ketika kami bilang sama supir tujuannya ke Kamal lalu ke Sentul, mereka menunjukkan gelagat gak enak, tapi tetap nyetir. Sampai di Kamal, anak-anak Rumah Singgah Sumbangsih sudah pada masuk bis dan duduk manis, para supir dan kernet mogok. Gak mau nyetir dan lanjutin perjalanan. Pucet lah saya dan tim divisi. Ternyata mereka katanya dapet infonya tujuannya Kanal (Jakarta timur), bukan Kamal. Dan mereka minta tambahan biaya untuk bbm karena mereka gak siapin bbm untuk tujuan sejauh itu. Tidak usah ditanya deh, betapa sengit dan emosinya saya menghadapi para supir dan kernet itu. Tapi saya harus jaga sikap di depan anak-anak lucu yang ngeliatin dari dalam bis. Akhirnya saya menyetujui untuk menambah biaya, karena kalo gak bisnya gak jalan2 dan acara bisa molor lama. Di jalan, kena macet itu biasa lah ya. Tapi supirnya ngomeeelllll mulu, baik bahasa batak maupun cuma desis dan decak kesal. Saya masih tahan emosi sampai yang lebih buruk terjadi. Bisnya salah keluar tol! Rasanya pingin bakar idup-idup tu supir hahaha. Soalnya sponsor Helping Hands ada di dalam bis yang sama, jadinya malu semalu-malunya. Tau salah, si supir bis maen potong jalur tol orang untuk muter balik! Yak, muter balik seenaknya! Entah saya harus pusing apa takjub melihat kenekatannya. Misi dan tujuan saya demi anak-anak utk have fun di Sentul, ya sudahlah saya gak peduliin pelanggaran demi pelanggaran lalu lintas si supir bis itu. Sudah selesai derita? Belum. Pas otw pulang, bos vendor sms dan bilang bahwa akan ada overtime fee kalau kita belum sampe lokasi awal di jam 8 malem. Saya lihat jam, masih jam stengah 6 dan posisi di Kamal. Aman lah, karena Kamal ke Sudirman gak makan waktu lama. Setelah menurunkan anak-anak kecil itu di Kamal, satu bis mendadak minta pisah atau pulang duluan karena penumpangnya udah gak ada. Kesel tapi gak ada gunanya jg itu bis ikut smp sudirman, saya pun mengiyakan. Lagi di jalan menuju Sudirman, ada sms lagi dari vendor bis bahwa waktu telah habis jam 6 tadi, kami akan dikenakan overtime fee. Sinting! Ngamuk-ngamuk lah saya, di awal sekali bilang bisa dipakai seharian, lalu ubah ketentuan jadi jam 8 malem, dan terakhir cuma sampai jam 6 sore. Bikin draft email panjang lebar tentang ketidakprofesionalisme mereka lengkap dengan ‘ancaman-ancaman’ hukum ala lawyer (ehem). Seru lah bis saya itu. Gak usah disebut namanya lah ya apa nama vendornya, manajemen mereka yang buruk tidak perlu saya umbar disini. Toh, semua masalah sudah diatasi dengan baik, entah karena "ancaman hukum" saya atau memang mereka berjiwa besar.

2.    Saya ketagihan makan udang bakar madu-nya Mang Engking, Depok, semenjak saya menikmati enaknya di Mang Engking Jogja di tengah-tengah sawah. Bukan lagi karena suasana dan pemandangan, karena Depok beda banget sama Jogja sana. Tapi rasa udang bakar madu-nya sungguh nikmat bikin nasi nambah terus. Saran saya kalau ke Mang Engking, pesan yang “standar” aja, jangan yang “spesial”. Karena yang standar 1 porsinya dapet 4 tusuk, dimana 1 tusuknya terdapat 4 udang crunchy tersebut. Sementara yang “spesial” cuma dapet sedikit tusuk dan sedikit udang, hehe. Harganya memang costly, tapi sebanding dengan rasanya!

3.    Pulang dari dokter kecantikan di Cawang, saya pun terjebak macet luar biasa di sekitar Pancoran. Naas, saya kebelet pipis banget banget banget. Tadinya saya berharap lampu merah di depan sana segera hijau dan saya mampu melewati kemacetan yang menuju semanggi. Sayang sekali, 5 kali merah 5 kali hijau tidak juga membuat saya melewati macet. Pikiran sudah tidak jernih lagi karena keinginan pipis yang semakin besar. Saya baca doa-doa entah doa apa aja, gunanya untuk menenangkan diri dan sekaligus menjadi distraksi. Gagal juga. Saya mulai memikirkan kemungkinan untuk menepi ke pinggir, dan mencari tempat pipis di gedung manapun di dekat situ. Gagal juga, mobil rapet-rapet sehingga gak bisa gerak ke kiri. Pikiran gila yang kedua dan terparah adalah, saya membongkar isi tas saya dan menemukan kotak bekal makan siang. Saya sudah mulai berniat membuka celana dan pipis di Tupperware!! Saya masih disayang Tuhan dan Tupperware tersebut masih dilindungi pula, lampu hijau kesekian menyala dan entah gimana, antrian mobil maju terus dan maju. Mobil saya berhasil belok ke kanan dan menghindar dari barisan panjang nan gila itu. Saya pun masuk ke gedung Izzi Pizza untuk menyelesaikan nafsu toilet saya. Alhamdulillah, aman terkendali.

4.    Derita tubuh di 1 hari menyedihkan. Saya bersin-bersin dan ingusan (flu), menstruasi, dan diare. Lengkap! Saya tidak masuk kantor demi memperbaiki stamina tubuh. Malemnya saya reunian kecil dengan beberapa teman dekat, karena sudah janji sejak lama. Saya paling gak bisa membatalkan janji yang sudah dibuat, meskipun kondisi badan gak fit. Prinsip saya, selama saya masih bisa bergerak dan jalan turun dari tempat tidur, berarti janji dengan siapapun gak akan batal. Bedakan dengan janji yang batal karena force majeure ya, misal ujan badai atau klien gila yang dadakan minta meeting hihihi.

5.    Karena flu bikin hidung mampet dan batuk-batuk, saya pun berniat untuk mencari makanan panas dan berkuah. Sayangnya keterusan. Paginya makan bakso abang-abang di taman amir hamzah, sorenya makan bakwan malang pinggir jalan ahmad dahlan. Intinya seharian itu saya hanya makan jajanan pinggir jalan, yang penuh dengan MSG, dan saos-saos lucu. Batuk saya semakin menjadi lah.

6.    Entah karena overdose MSG di poin 5 di atas atau karena hal lain, saya muntah-muntah di satu malam, dan menjadi tanda awalnya saya batuk berlendir dan sesak napas akut. 2 malam saya tidak bisa tidur karena semua posisi berbaring membuat saya tidak bisa napas sama sekali. Tertidur lah akhirnya dengan posisi duduk. Tapi cuma itu yang bisa dilakukan demi bernapas. Pagi harinya saya memaksakan diri ke makam eyang kakung di kalibata, dan saya pun jatuh hampir pingsan di pemakaman. Bukan karena panas terik, tapi karena saya kesulitan bernapas dan keringat dingin di sekujur tubuh. Ibu saya yang ada disana pun panik, dan hampir membawa saya ke UGD, tapi saya ngeyel untuk menolaknya. Saya pun dipaksa ke dokter dan memeriksakan diri. Sempat takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada jantung atau paru-paru saya, atau asma dsb. Tapi hasil dokter mengatakan kalau saluran pernapasan saya menyempit karena saya alergi beberapa hal dan tidak rajin minum obatnya. Bukan asma, bukan infeksi paru, dan bukan jantung, Alhamdulillah. Tapi tetap saja saluran pernapasan itu harus diperbaiki dengan obat-obatan.

7.    Kalau mencari perlengkapan pantry/dapur seperti piring, mangkok, gelas, mug, cangkir, toples, sampai coffee maker dengan harga murah, sangat disarankan untuk ke suatu tempat di tepi jalan fatmawati (ada cabangnya juga di Tebet). Gak ada plang nama, tapi terlihat dari jalan raya banyak mangkok-mangkok dan gelas-gelas tertumpuk tinggi. Saya baru pertama kali kesana, dan langsung girang. Keperluan kesana untuk membeli peralatan pantry kantor yang menipis, tapi jadi mikir juga apa aja yang akan dibeli nanti kalau sudah menikah dan mau main rumah-rumahan. Kemarin saya beli 2 set (isi 6) cangkir cantik, dan 10 mug cuma habis Rp. 265.000.



Blog EntryJul 22, '11 5:21 AM
for everyone
Mari melanjutkan niat menulis setiap minggu! Saya mendapatkan pengalaman (penting maupun gak penting) selama seminggu terakhir kemarin seperti yang dituliskan berikut ini.

1.    Lagi masa-masa dapat rejeki. Dapat ‘bonus’ di satu hari yang membalas kerugian untuk 3 bulan. Singkat cerita, bisa langsung bayar utang sana-sini, tutup kartu ini itu, bayar vendor anu, beli barang yang memang diperlukan, kalap beli DVD untuk teman di kamar, sampai mentraktir ibu dan keponakan tersayang di restoran Marchè. Patut disyukuri.

2.    Sudah hampir 10 tahun menata rambut berbelah pinggir (baik kanan maupun kiri), saya mencoba ‘memberanikan diri’ untuk menata rambut menjadi belah tengah. Dulu waktu kuliah tingkat awal saya belah tengah, dan teman-teman kuliah bilang di masa sekarang kalau belah tengah itu salah satu aib masa lalu saya. Tapi ternyata pas dicoba lagi, gak begitu parah kok penampilan saya, malahan rambut saya jadi tidak membotak kalau sering-sering ganti belahan rambut.

3.    Karena selama hampir 3 tahun bekerja di kantor yang menggunakan unisex toilet, saya jadi bisa menebak dengan benar toilet tersebut habis dipakai cowok atau cewek. Bukan dari dudukan toilet yang naik atau turun, tapi dari kencangnya air pada jetspray. SE..RI..USS! Begini deh pokoknya, kalau toilet habis dipakai cowok, biasanya air pada jetspray itu diatur menjadi kecil, kemudian agak sedikit tetesan air di ubin efek jetspray. Saya gak usah mengira-ngira seperti apa prosedur laki-laki di toilet kali ya.

4.    Ada modus penipuan baru. Sepupu saya mendapatkan telepon dari orang yang mengaku bernama Prista Devina (yap, nama kurang lengkap saya!) dan minta ditransfer uang sebesar 1 juta. Sepupu saya bukan yang mengangkat telponnya, tapi asisten rumah tangganya yang menerima lalu menuliskan pesan dari Prista Devina gadungan tsb. Sepupu saya pun mengontak saya melalui hp utk menanyakan sejuta itu diperlukan utk apa. Singkat cerita, kami sama-sama menyadari kalau itu modus. Tapi ada yang aneh sih, kalaupun nipu, kok cuma sejuta? Trus dia minta ditransfer tapi dia gak kasih tau norek utk ditransfernya. Ck ck ck.

5.    Memulai aktivitas membaca buku kembali. Kali ini buku yang saya baca cukup sederhana, yaitu “The Butcher” karya John Lutz. Fiksi thriller tentang mutilasi di New York. Well, at least I’m starting to read again.

6.    Setelah dapat info dari sana-sini, saya pun memberanikan diri ke dokter kecantikan yang konon kabarnya sudah merawat kecantikan Ussy Sulistyawati, Neng Tikeu, Elza Syarif, Bertrand Antolin, dan Indra Bruggman (tampaknya 2 list yang terakhir lebih menggiurkan untuk dicontoh). Mana dokternya funky pula, umur 39 tahun tapi ngomong sama saya dgn “gue-elo”, trus percaya aja saya akan bayar apa gak karena dia gak minta selesai treatment. Baru dua kali kesana, wajah saya lebih shiny dan cerah. Hore! Indra Bruggman, I’ll be much prettier than you are!

7.    Karena eyang putri saya sakit DB minggu lalu, kami serumah pun panik, lalu memutuskan untuk melakukan fogging di dalam rumah. Seharian saya tidak kemana-mana, hanya mempersiapkan sebelum disemprot. Makanan-makanan cemilan langsung disimpan di lemari rapat, koleksi tas yang ada di kamar saya ungsikan ke kamar atas yang dekat dengan loteng dan udara luar, papoy (binatang saya) pun saya gendong kemana-mana dan akhirnya masuk mobil yang terparkir di luar rumah. Ternyata sudah rempong dengan pra-fogging, rempong juga dengan pasca-fogging, eh masih ada aja loh nyamuk yang beterbangan. Kemungkinan besar obat semprotnya mengandung komposisi solar lebih besar daripada ramuan pembasmi nyamuknya.

8.    Kalau bekerja dengan teman baik dalam satu tim kepanitiaan sering berpotensi menimbulkan pertengkaran. Terbukti beberapa kali ikut dalam kepanitiaan project sosial yang terdiri dari beberapa kawan baik, ada persinggungan-persinggungan yang tercipta. Mungkin karena under pressure sama project itu sendiri, mungkin karena salah satu pihak tidak sreg ‘diperintah’ oleh satu pihak yang lain, mungkin karena ada yang merasa disepelekan oleh si teman baik tersebut. Saya kebetulan sangat ekspresif, jadi apapun yang saya tidak suka atau merasa keberatan, pasti saya vokal sekali dlm menyuarakan opini saya. Dari argumentasi yang logis sampai sengol-sengolan yang emosional cuma berlangsung sebentar saja, tanpa dendam. Karena memang sudah seharusnya seperti itu.

9.    Seharusnya buka puasa itu nikmat, apapun menunya. Hal ini biasanya disebabkan karena sudah menahan lapar dan haus sekian belas jam, sehingga tidak ada kualifikasi lagi dalam penyantapan makanan dan minuman ketika berbuka. Tapi sayangnya saya baru menyadari tidak selalu begitu pas puasa hari Senin lalu. Atas satu dan lain hal, saya mengurungkan niat untuk berbuka puasa bersama seseorang, lalu saya akhirnya malah terjebak di kemacetan lalu lintas Jakarta. Singkat cerita, saya pun membeli makanan seadanya di stand makanan selewat saya. Beli risoles, tahu isi, dan martabak plus air putih, standar. Apa sih yang bisa salah dari menu-menu tersebut? Astaga ya ampun, ketika denger adzan magrib saya pun meraih botol minuman sambil menyetir. Dan ternyata, segel botol sudah terbuka, dan air terisi lebih penuh dari yang seharusnya. Disitu saya menyadari bahwa ini adalah botol isi ulang alias botol air mineral merek tertentu sudah dibuka dan digunakan, kemudian diisi lagi dengan entahlah air dingin dari mana asalnya. Ilfil sudah pasti, tapi saya harus minum. Tangan saya pun beralih ke gorengan-gorengan yang sebelumnya saya beli. Martabaknya hampir basi, tahu isinya dingin, dan risolesnya asem. Nafsu makan saya yang seharusnya besar otomatis jadi hilang. Kesemua hidangan tersebut tidak saya habiskan (baca: gigit sedikit lalu tinggalkan), dan menahan lapar sampai mendapatkan makanan yang proper.

10.    Pulang dari kawinan di Puri Cinere, saya mencari makanan untuk disantap di sekitar cinere. Tidak nemu, berjalan lanjut ke Karangtengah, dekat situ juga. Mata melirik ke restoran kecil milik Pak Maksudi, yaitu Sop kambing. Tergugah untuk mencobanya, lantas kami pun putar balik. Sop kambingnya gurih sekali dan dagingnya banyak, sate kambingnya empuk dan bumbunya tidak berlebihan. Ada gulai kambing juga, tapi perut kami sudah penuh dan kenyang. Harga untuk semangkuk sop kambing, 10 tusuk sate kambing, dan 3 minum menghabiskan Rp. 98.000,-. Worth it!


Blog EntryJul 18, '11 8:35 AM
for everyone
Kalau udah pernah nekat dan berhasil, pasti bawaannya pingin nyoba lagi.
Hal ini terjadi sore tadi, saya nekat mau melalui jalur 3 in 1 sendirian krn beberapa kali berhasil lolos dari polisi-polisi jalan sudirman. Saya pun malas nyari joki (ibu2 dengan anaknya) karena gak ada uang kecil di dompet yg cukup layak utk dibayar ke joki.

Singkat cerita, senyum yang tersungging berubah langsung waktu bapak polisi gendut menyebrang lalu berdiri menghalangi mobil saya dengan menggoyang2kan lampunya. Persis kayak beruang sirkus atraksi.

"Malam mbak"
"Malam"
(Ngelongok2 ke dalam mobil) "sendirian mbak?"
"Sama jin, pak"
"Si mbak ini gimana sih, ini kan jam 3 in 1"
"Iya pak, bener juga"
"Coba liat surat2. Emg jarang lewat sini yaaa?"(nadanya panjang beneran)
"Sering pak, tp biasanya naek angkot" (udah asal ngomong)
Bapak meriksa2 SIM dan STNK saya. Beberapa kali memperlambat gerakan. Saya pun acuh tanpa melakukan apapun.
"Mbak, ini disidangkan aja nih?"
"Oke"
(Mulai ngelirik2 ke kiri kanan) "Sidangnya tgl 29 juli loh"
"Insyaallah bs dateng pak"
"Sidangnya antri panjang loh mbak, sekitar jam 10-an gt baru mulai"
"Gak papa pak, biasa ikut sidang, jd terbiasa ngantri"
"Tapi masa sidang sih?" (Lah, dia ikut bingung)
"Udah deh pak, surat tilangnya dibikin. Saya kan salah."
"Kok mau ditilang sih, kenapa hayoo"
"Pak saya ga ada waktu ngobrol. Mana surat tilangnya sih?"
(Balikin sim dan stnk doang, mukanya tampak menyerah)
"Ga usah pake sidang2an deh, mbak utang loh sama saya"
(Keukeuh ga mau ngeluarin uang, krn emg tinggal 2 lembar 100ribuan yg gak akan rela berpindah tgn ke polisi gendut)
"Utang budi ya pak? Nanti saya bantuin kapan2"
Mobil saya pun melaju stlh tangan polisi gendut mempersilakan saya menyingkir.

Gak suka di-pedekate-in sama polisi. Selain krn saya gak suka nyuap, saya juga udah punya pacar :))

Blog EntryJul 12, '11 2:41 PM
for everyone

Those eyes see me like no eyes ever have
And there's a road from those eyes to my heart
I hope that every second he shut his eyes, it is always me that he sees




*kalo lagi kangen gue kacrut ah*

*malu*



Blog EntryJul 11, '11 1:07 PM
for everyone
Mulai minggu ini saya mau merangkum hal-hal yang saya alami, lakukan, rasakan selama seminggu kemarin. Tujuannya supaya gak males nulis aja sih, dan jadi bahan bacaan saya nanti-nanti in case saya sudah pikun.


1.    Sering denger betapa tersohornya Bakmi Roxy, tapi baru nyobain ya senin kemaren. Gak perlu jauh-jauh ke daerah roxy, tapi ‘cabang’nya mangkal di jl. Cikini raya, persis di depan petshop (deretan tan ek tjoan, maison benny, TIM). Setiap lewat situ, emang selalu ramai orang. Padahal cuma gerobak biasa, dengan modal beberapa meja dan kursi. Saya memesan kwetiaw ayam-bakso untuk dibawa pulang. Penampilannya sih biasa aja, tidak semenarik kwetiaw di Bakmi Gondangdia, tapi rasa kwetiaw Bakmi Roxy enak! Kenyalnya pas, bumbunya pas, ayamnya ayam kampung (lebih gurih), dan baksonya beneran bakso sapi (bukan bakso ecek2). Dengan harga Rp. 13ribu saya pun tersenyum senang, perut saya juga. Lain kali kudu coba bakminya!

2.    Tidak boleh memikirkan hal lain ketika sedang beribadah. Itu yang saya pahami ketika kepala saya benjol waktu sholat. Kok bisa? Saya sedang sholat di ruangan kantor, persis di bawah meja kerja saya. Ketika sedang sholat, pikiran saya kemana-mana, terutama ke uang. Pada saat saya sujud, kejadian aneh terjadi, pembolong kertas yang besar dan berat itu jatuh aja gitu ke kepala. Sempet teriak kaget, lalu kembali khusyuk. Di hari yang sama saya sholat di mesjid tapi tidak ikut berjamaah karena mau buru-buru. Hal lucu terjadi, ketika saya sedang sujud (lagi-lagi pas gerakan itu), kepala benjol saya didudukin bokong orang di depan saya, dan saya kesakitan tapi gak bisa berbuat apapun kecuali meringis. Orang tersebut agak lama menduduki kepala saya, sepertinya sampai ‘asalamualaikum’. Ketika saya bangun dari sujud, orang tersebut udah beranjak pergi jadi saya tidak pernah sempat menegurnya. Tapi, teguran kepada diri sendiri saya dapatkan dua kali dalam satu hari.

3.    Baru ngeh kalau Jakarta-Samarinda tidak ada direct flight dari maskapai manapun. Harus melewati Pontianak, Banjarmasin, atau Balikpapan lalu lanjut pesawat kecil. Rute yang dipilih dan dinilai paling efisien adalah Jakarta-Balikpapan, lalu lanjut jalan darat selama 2 jam perjalanan.

4.    Sudah tau kalau di dekat rumah banyak kos-kosan, tapi tidak pernah tahu harganya berapa. Saya jadi tau gara-gara 2 teman saya menanyakannya. Saya pun ‘investigasi’ ke tetangga-tetangga melibatkan bantuan dari pak RT. Ternyata harganya sangat terjangkau, jika dibandingkan dengan lokasi rumah saya yang strategis; kemana-mana ada jalur bisnya, dekat stasiun kereta, banyak pangkalan ojek, merupakan trayek bemo, halte segala jurusan cuma tinggal nyebrang, dsb. Kok saya promo kesannya kayak buka kos-kosan ya?

5.    Kembali mencoba Avocado Mousse Cake-nya Petikafe Benhil dan Brownies-nya Immanuel. They both taste like heaven! Harganya sama-sama murah, tapi mata merem melek dan gak mau santapan cepet abis.

6.    Setelah lebih dari 6 bulan rambut saya tidak pernah diurus di salon, saya kembali menginjak salon La Femme di benhil untuk melakukan toning rambut. Rambut saya sekarang hitam kembali, lebih mengkilat, lembut, dan tentunya sehat! *gaya ngomong kayak dian sastro di iklan*

7.    Payday kali ini terasa sangat dramatis. Masuk keluarnya uang memancing helaan napas dan (hampir) air mata. Sekian.

8.    Sempat memberikan kabar buruk ke teman2 panitia Helping Hands Project (HHP) kalau semua vendor bis untuk menyewakan kpd kami di hari H sudah fullybooked; hanya tersisa minibus. Gak disalahkan juga sih, tanggal 23 juli mendatang jatuh di weekend, sementara saya hanya baru mem-book bbrp vendor terkenal tanpa DP, ya otomatis pasti pesanan saya jatuh ke orang lain yang bisa membayar duluan. Akhirnya dengan bala bantuan beberapa teman, kami pun dapat vendor bis yang sesuai dengan harapan dari segi kapasitas dan biaya. Mudah2an tidak ada keluhan berarti pada saat hari H nanti.


Blog EntryJun 20, '11 1:55 AM
for everyone

Dari semalam sebelumnya sudah jumpy gak karuan, mencoba untuk tidur dengan minum obat alergi tidak mempan juga. Sudah mulai merem, eh melek lagi karena ada yang dipikirkan tiba-tiba. Entah gimana prosesnya, tiba-tiba saya sudah terbangun aja pokoknya jam 5.15.
Selesai ibadah dan gosok gigi, saya sempat nge-twit “Bingung apa yang mau dikerjakan duluan”. Itu karena memang saya bingung antara mau mandi dulu, atau beberes dulu, atau sarapan dulu, atau mengerjakan hal-hal yang tertunda kemarin malam.
Sekedar informasi saja, kemarin malam sebenarnya saya sudah berencana untuk tarik tunai di suatu atm bank, membeli sendok plastik, dan ambil kue di satu toko. Ibu saya melarang saya keluar rumah dengan alasan sudah malam, berbahaya untuk pergi sendirian. Lah kemaren-kemaren apa kabar? Tapi mungkin kondisinya beda sih ya kemaren-kemaren hehe.

Singkat kata, saya ‘terpaksa’ melakukan semuanya di pagi hari dengan segala keribetan. Saya sudah janji jam 7 dengan make up artist yang dateng ke rumah, tapi jam 6.30 saya baru selesai beberes dan mandi. Saya berpikir kalo ATM ada di manggarai, di deket situ juga ada minimarket yang jual sendok plastik, terus bisa ambil kue di sekitar menara imperium. SEARAH dan juga DEKAT.

Tuhan lagi sayang banget sama saya, jd mungkin sedang mencoba bercanda untuk menambah seru hari. 3 ATM di sekitar manggarai tidak berfungsi semua, sehingga saya harus memutari beberapa tempat untuk mencari ATM berwarna biru tersebut. Nekat, saya sampai menjauhi tempat yang saya rencanakan dengan melesat ke daerah Tebet, yang untungnya ada dan online.
Setelah urusan selesai di ATM, tugas selanjutnya adalah membeli sendok plastik. Yang saya ingat adalah begitu saya di jl. Saharjo, jam tangan saya sudah jam 7.05 dan make up artist saya sdh sms “mbak, aku udah sampe ya”. Wah, semakin ngebut. 2 minimarket 24 jam tidak menjual sendok plastik, sementara untuk menunggu supermarket buka, itu masih 2 jam-an lagi, gak ada waktu. Saya pun batalkan rencana beli sendok, saya memilih untuk mengambil kue saja di dekat menara imperium.
Jam 7.15 saya mengetahui di depan pasar rumput manggarai sedang chaos karena tawuran. Yak, pinter, orang gila mana yang tawuran pagi-pagi sih? (Eh lain waktu juga tetep gila sih). Otomatis mobil manapun gak bisa lewat karena banyak pecahan kaca di jalanan. Putar balik sekaligus putar otak, saya harus mengambil kue tersebut. Kalau lewat jalan lain yang lebih jauh akan makan waktu dan saya pasti bikin make up artist kesal menunggu di rumah. Akhirnya saya putuskan untuk menitipkan mobil di warung tambal ban pinggir jalan, lalu pergi naik ojek kearah toko kue dengan melewati jalan tikus (yang hanya bs dilalui motor). Kue sukses diambil, tapi saya sampai di rumah sudah jam 7.50. Terlambat satu jam dari waktu yang direncanakan. Teriak-teriak, marah-marah, nangis, stress, sudah saya lakukan dan alami di dalam mobil ketika menyetir pulang. Jadi begitu sampai rumah sudah bisa lebih lega dan pasrah dengan hal-hal buruk lain yg mungkin terjadi.

Jam 10 tepat saya selesai didandani. Keluarga banyak yg mengritik tentang hebohnya bulu mata palsu saya, seperti sapu kata mereka. Tidak apa-apa, saya gak mau membiarkan ada orang yang bisa menjatuhkan dan merubah mood saya. Jam 10.35 si mas pacar mengirim message: “kita berangkat sekarang”. Seluruh keluarga besar pun mulai bersiap-siap menyambut di ruang tamu.

Sekitar jam 11.00 tepat, si mas pacar pun datang bersama ibunda, kakak-adik, serta keponakannya. Disambut oleh ibu dan om saya, lalu dua keluarga pun duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Acara pun dimulai, maksud dan tujuan disampaikan, tanggapan dan persetujuan disampaikan, peningset diberikan, doa syukur diucapkan, makan siang disantap, ramah-tamah dilakukan, dan angsul-angsul balasan pun diberikan. Keluarga si mas pacar pun pamit pulang meskipun belum sempat foto bersama. Tapi syukurlah, semua sudah terlewati tanpa halangan berarti. Saya dan si mas pacar jauh lebih lega dengan acara besar yang telah berlangsung. Tinggal beberapa misi lagi yang harus kita lakukan dalam perjalanannya.

Kami mohon doa restunya.


Lutfi dan Devina


PS: ths photo was taken on the big event of June 19, 2011





Si lelaki bisa berlaku apa saja di depan si perempuan. Dapat memilih pakaian apa saja untuk dipakai di depan pasangannya. Celana tidur yang robek pun tidak menjadi masalah karena di awal hubungan mereka berjanji untuk saling menerima apa adanya.
Ia bisa tertawa dengan kencang bersamaan dengan buang angin yang dilakukan di depan pasangannya.
Ia pulang dari kantor dengan  membawa penat. Yang ia ingin lakukan hanyalah mandi air hangat, makan malam berdua di depan tv, mengobrol berdua sambil menikmati teh panas, membaca buku favorit sambil menaruh kepala di pangkuan si perempuan, mengecup lembut kening pasangannya tersebut, kemudian pergi tidur dengan berpelukan erat sampai pagi menjelang. Sungguh sesederhana itu.
 
Sederhana menurut siapa?
 
Si perempuan adalah seorang pembosan. Ia menginginkan hidupnya selalu berwarna setiap harinya. Awal dia jatuh cinta pada si lelaki adalah karena si lelaki bisa membuat hatinya berdebar luar biasa dengan cara-cara yang mengejutkan.  Ia menyukai liburan rahasia yang dilakukan bersama pasangannya tersebut, menyenangi perjalanan penuh spontanitas di tengah minggu, menikmati berpelukan lama di depan umum. Ia berbinar-binar jika harus mencoba tempat makan atau ngopi baru. Yang diinginkan ketika pulang bekerja adalah menghilangkan segala beban pikiran yang dialami sepanjang hari. Ia menginginkan pergi ke luar bersama pasangannya, dengan memakai baju yang cantik dan seksi, menikmati malam di tengah keramaian, ketika ada beberapa lelaki yang menaruh perhatian padanya kemudian pasangannya akan menggandeng lebih erat dan memeluknya tanpa renggang sedikitpun seolah mengukuhkan bahwa mereka bersama dan tidak ada yang bisa merebut satu diantara mereka, kemudian si perempuan akan tertawa senang ketika pulang ke rumah si lelaki menciumnya penuh gairah di depan pintu dan mengatakan “aku cemburu sepanjang malam”, lalu mereka akan masuk ke bathtub untuk mandi busa bersama, berdansa di tepi ranjang sambil tertawa-tawa karena kaki saling terinjak, kemudian saling terhanyut dalam gairah yang membuncah sepanjang malam hingga tidur berhadapan tanpa pakaian. Sungguh sesederhana itu.
 
Sederhana menurut siapa?


PS: Kadang perbedaan konsep bisa merusak keharmonisan hubungan, meskipun hanya konsep kesederhanaan yang semestinya….. ya, sederhana.

 

Premium Account

devina

secret of life is to fall seven times and to get up eight times :)