Sejak sebelum saya menikah sampai saya baru menikah, ketika ditanya oleh orang-orang “kamu mau langsung apa nunda (punya anak)?” Saya dengan cepat menjawab “nunda sebentar… sampai siap. Yah, beberapa bulan kosong deh, biar napas dulu. Mudah2an dikasih hamil disaat masih produktif masanya”.
Hal itu dengan berbagai versi, saya sampaikan ke setiap orang yang bertanya.
Dan betapapun saya sebagai manusia biasa hanya bisa punya rencana dan keinginan, namun bukan menjadi pembuat keputusan atau ketentuan yang pasti.
Saya bengong tidak percaya ketika dalam hitungan minggu setelah menikah hasil
test pack mengisyaratkan positif hamil.
Saya takjub ketika obgyn mengkonfirmasi kehamilan saya yang berusia dini.
Tidak ada kata-kata yang tepat yang bisa menggambarkan perasaan saya pada saat itu.
Lalu kata-kata yang tepat untuk sekarang?
BAHAGIA. TERHARU. BERSYUKUR. GELISAH. BERSEMANGAT. GEMBIRA. TAKJUB.
Saya salut sekaligus miris terhadap perempuan yang memilih untuk merahasiakan kehamilannya, apapun alasannya. Salut karena mereka cukup tegar dan kuat menghadapi proses kehamilan sendirian (tanpa dukungan orang-orang), dan miris karena mereka tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan mereka ke orang-orang banyak.
…karena hamil itu memang sungguh luar biasa indah rasanya…Minimal bawaannya ingin pamer ke alam semesta dan isinya tentang kehamilan.
Dari mulai jalan dengan membusung-busungkan perut biar keliatan, mengelus-elus perut di keramaian, sampai menyatakan dengan lantang, “Iya, saya sedang hamil….”
Saat ini kehamilan saya masuk perhitungan 8 minggu. Sudah hampir 2 bulan saya beradaptasi dengan kehadiran mahluk kecil di dalam tubuh saya, ya begahnya ya mual2nya ya pegelnya ya semua. Banyak hal yang terjadi pada saya secara drastis. Biasanya mau seharian jalan-jalan atau seru-seruan hayok aja, gak akan istirahat kalo gak sakit parah. Sekarang bawaannya mau tidur dan istirahat terus; jadi anak rumahan, kerja pun jadi ogah-ogahan kalau gak dipaksakan. Makan pun yang biasanya saya batasi karena terbiasa diet menjelang pernikahan, jadi gila-gilaan kuantitasnya. Setiap 3 jam sekali saya kelaparan dan kepingin makan. Akhirnya
snacks dan buah selalu ada dalam
list belanja mingguan (atau dua harian hehe). Pernah menjadi perokok aktif, saya terbilang cukup cepat mengatakan selamat tinggal pada rokok ketika saya mencurigai diri saya hamil. Saya tidak sedikitpun ingin meminta rokok orang atau mencuri-curi kesempatan, saya jauh lebih sayang kesehatan kehamilan saya daripada kebiasaan yang telah berlangsung kurang lebih 10 tahun itu. Saya tidak bisa mencium aroma-aroma yang mencolok di sekitar, seperti parfum yang terlalu wangi, sambal terasi, ikan goreng/bakar, pengharum ruangan,
stick aromaterapi, dan lain-lain. Tentang makanan pun menjadi lebih pemilih karena banyak hal pemicu untuk menjadi mual, sehingga makanan yang saya santap yang aman-aman saja; itu lagi itu lagi.
Semoga kehamilan saya lancar dan normal di semua proses. Semoga janin berkembang sempurna, sehat, dan tepat waktu. Semoga saya dan Lutfi juga diberikan kesiapan fisik dan mental dalam menyambut
si anak kecil. Semoga semoga semoga…

I want to be a mother simply because I want to experience what my mother called “the most wonderful, terrifying n fulfilling thing that life has to offer”